Setelah menghabiskan sekitar 10 hari di luar angkasa, empat astronaut yang menumpang pesawat Orion akhirnya kembali ke Bumi dengan selamat. Misi mereka mengelilingi Bulan pun dinyatakan sukses besar dan penuh pencapaian bersejarah.
Kapsul bernama Integrity bagian dari misi Artemis II milik NASA mendarat mulus (splashdown) di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, California, pada Jumat, 10 April pukul 17.07 waktu Pasifik. Seluruh awak tiga astronaut asal Amerika Serikat dan satu dari Kanada dipastikan berada dalam kondisi sehat setelah pendaratan yang berlangsung “sempurna”.
Misi ini dipimpin oleh Komandan Reid Wiseman, dengan Victor Glover sebagai pilot, serta dua spesialis misi, Christina Koch dan Jeremy Hansen. Selama lebih dari sembilan hari di luar angkasa (dibulatkan menjadi 10 hari), mereka mencatat berbagai pencapaian luar biasa.
Salah satu yang paling menonjol, kru Artemis II berhasil memecahkan rekor perjalanan luar angkasa terjauh yang sebelumnya dipegang oleh misi Apollo 13. Mereka mencapai jarak sekitar 252.760 mil dari Bumi menjadikannya perjalanan manusia terjauh dalam sejarah.
Tak hanya itu, para astronaut juga mengambil foto-foto spektakuler saat melintasi Bulan, termasuk gambar dari sisi permukaan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Mereka bahkan menyaksikan gerhana Matahari total dari luar angkasa menjadi pengalaman langka yang hanya bisa dialami segelintir manusia.
Dalam eksplorasi tersebut, kru juga menemukan kawah baru dan mengusulkan dua nama, salah satunya untuk mengenang istri Wiseman, Carroll, yang meninggal dunia akibat kanker pada 2020.
Artemis II sendiri menjadi misi bersejarah bagi NASA. Pekan sebelumnya, tim astronaut Amerika dan Kanada ini diluncurkan menggunakan roket setinggi 332 kaki menandai kembalinya manusia ke perjalanan menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
Misi ini juga mencatat berbagai sejarah “yang pertama” dalam sejarah eksplorasi luar angkasa: Victor Glover menjadi orang kulit hitam pertama yang dikirim ke Bulan, Jeremy Hansen menjadi astronaut Kanada pertama, dan Christina Koch menjadi perempuan pertama yang menjalani misi tersebut.
Dalam konferensi pers, Koch menggambarkan misi ini sebagai bagian dari perjalanan panjang umat manusia. Ia menyebut misi Artemis seperti estafet, di mana setiap kru membawa tongkat simbolis untuk diteruskan ke generasi berikutnya.
“Sejak awal, kami melihat hal ini seperti lomba estafet. Kami bahkan membawa tongkat sebagai simbol bahwa apa yang kami lakukan akan diteruskan ke kru berikutnya,” ujarnya.
Administrator NASA, Jared Isaacman, turut memuji keberhasilan misi ini. Ia menyebut para astronaut sebagai “duta menuju bintang” dan menegaskan bahwa Amerika Serikat kembali aktif dalam mengirim manusia ke Bulan dan membawa mereka pulang dengan selamat.
Artemis II juga berfungsi sebagai uji coba penting, termasuk pengujian sistem pendukung kehidupan pada pesawat Orion. Meski tidak mendarat di permukaan Bulan, misi ini menjadi fondasi bagi langkah besar berikutnya.
Misi ini sering dibandingkan dengan Apollo 8 versi modern yakni sebuah perjalanan yang membuka jalan bagi pendaratan manusia di Bulan. NASA sendiri telah merencanakan misi lanjutan, termasuk Artemis IV yang ditargetkan pada 2028 untuk kembali mendaratkan manusia di permukaan Bulan.
Keberhasilan Artemis II menjadi sinyal kuat bahwa era baru eksplorasi luar angkasa telah dimulai dengan tujuan yang lebih jauh: membangun pangkalan di Bulan, menjelajahi ruang angkasa dalam, hingga suatu hari mencapai Mars.









